Mencermati Hasil Survey Pilpres 2009
Melihat perkembangan dari kampanye para capres-cawapres menjelang pilpres 8 Juli 2009 yang dari hari ke hari semakin hangat, dapat dikatakan bahwa salah satu faktor ataupun kondisi yang cukup signifikan dalam membangun kehangatan fenomena tersebut adalah hasil survey yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga survey yang menimbulkan diskusi menarik diantara anggota masyarakat dikarenakan terlihat cenderung “memenangkan lebih awal” kepada salah satu pasangan capres-cawapres. Adanya kecenderungan tersebut menimbulkan beragam komentar dan pendapat dari masyarakat, banyak yang menyetujui hasil survey tersebut, tetapi tidak sedikit juga yang mengingkarinya.
Hasil survey terakhir yang juga menimbulkan gelombang wacana dimana mana adalah mengenai survey pilpres satu putaran dan dua putaran. Survey yang dikeluarkan oleh Lingkaran Survey Kebijakan Publik (LSKP) pimpinan Sunarto Ciptoharjono ini mengungkapkan bahwa mayoritas responden yaitu sebesar 89.1% setuju terhadap pilpres satu putaran, sedangkan 8,8% responden tidak setuju dan 2,1% responden menjawab tidak tahu. Bersamaan dengan keluarnya hasil survey tersebut, muncul juga di berbagai media informasi yaitu Gerakan Sosial (bentuk lain kampanye pasangan SBY-Boediono???) yang dikomandoi oleh Denny JA dari Lembaga Studi Demokrasi (LSD) mengenai pilpres satu putaran saja yang di dalam iklan gerakan tersebut tersembul gambar capres-cawapres SBY-Boediono yang ujung-ujungnya adalah ajakan untuk mencontreng pasangan tersebut walau memang sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Denny JA adalah orang dibalik naiknya SBY ke tampuk tertinggi pemerintahan RI pada 2004 hingga sekarang. Menarik untuk dicermati adalah bahwa ternyata Sunarto Ciptoharjono adalah juga bagian dari Tim Sukses SBY-Boediono, hingga menimbulkan pertanyaan motif dibalik hasil survey ini apalagi secara kebetulan bersamaan kemunculannya dengan gerakan/kampanye yang dilakukan oleh Denny JA dengan LSD nya yang secara jelas memang mendukung pasangan SBY-Boediono. Kondisi demikian menimbulkan kecemasan dan kecurigaan bahwa survey survey yang selama ini ada memang sengaja diadakan dan dibuat untuk mengarahkan anggota masyarakat lain untuk mengikuti hasil dari survey tersebut.
Kekhawatiran dan kecurigaan tersebut makin menguat manakala menyaksikan program acara Suara Anda di Metro TV dua malam yang lalu (01 Juli 2009) dengan narasumber Effendi Ghazali dan Sunarto Ciptoharjono yang dipandu oleh Najwa Shihab. Dari perbincangan yang cukup hangat tersebut, ternyata terkuak bahwa tujuan dari survey LSKP tersebut tak lain dan tak bukan adalah sebagai media penggiringan opini masyarakat agar nanti memilih pasangan SBY-Boediono pada pilpres nanti manakala hal tersebut tidak melanggar hukum dan ketentuan UU yang berlaku. Maksud dan tujuan akhir dari survey tersebut sebagai media pemenangan pasangan SBY-Boediono, hal yang sangat paradoks sekali dengan kampanye yang dilakukan oleh Denny JA dengan LSD nya mengenai keuntungan dari pilpres satu putaran yang dikatakan demi penghematan uang negara, agar pilpres cepat selesai dan agar parpol lekas rukun, serta agar pemerintah kembali bekerja untuk rakyat. Hal lain yang terbuka dalam perbincangan tersebut adalah kenyataan bahwa survey tersebut dilakukan dengan responden yang hanya meliputi wilayah DKI Jakarta saja, ini yang membuat keterkejutan dari sang host acara tersebut Najwa Shihab dan narasumber Effendi Ghazali terutama mungkin para pemirsa yang sempat menyaksikan acara tersebut. Jika wilayah survey yang dilakukan dan responden yang diwawancarai hanya meliputi bagian kecil dari negara ini tetapi ketika dipublikasikan seolah olah berasal dari seluruh Indonesia, bukankah hal ini bisa dikatakan sebagai kebohongan publik???? Oleh karenanya pertanyaan selanjutnya adalah, apakah survey survey mengenai pemilu dan pilpres (terutama yang menyangkut persentase kemungkinan menangnya pasangan SBY-Boediono yang sangat besar) yang telah dilakukan sebelumnya metodologi nya sama seperti survey yang dilakukan oleh LSKP tersebut. Bila memang ternyata benar adanya, semakin menguatkan kecurigaan maupun kecemasan dari warga masyarakat bahwa survey survey yang dilakukan oleh lembaga survey adalah “pesanan” dari parpol, pasangan capres-cawapres ataupun lembaga konsultan dari keduanya (seperti pada kasus LSI dengan Fox Indonesia) untuk menggiring opini masyarakat agar mengikuti apa yang telah dihasilkan oleh survey tersebut.
Sebagai kata akhir, penulis berharap agar ke depannya para lembaga survey tersebut mengedepankan moral dan etika dalam melakukan kegiatan surveynya, jangan hanya karena kepentingan tertentu menjadikannya mengabaikan kedua hal tersebut. Perlu adanya transparansi dalam hal metodologi atas hasil survey yang dipublikasikan (walau idealnya sebenarnya hasil survey tersebut tidak untuk konsumsi publik apalagi jika ternyata survey tersebut dilakukan atas “pesanan” dari institusi-instistusi tertentu). Selain itu diharapkan agar masyarakat dapat lebih teliti dan bijak dalam menyikapi hasil hasil survey yang ada, terutama setelah adanya kasus hasil survey yang tersebut di awal tulisan ini. Dengan demikian, apabila sudah cermat dalam melihat dan menyikapi setiap hasil survey, diharapkan tidak akan terjadi lagi penggiringan opini publik dengan begitu mudahnya ke arah yang diinginkan oleh pihak pihak tertentu demi kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Semoga saja.
Juli 4, 2009 pada 9:55 am
assalamu alaikum wr. wb.
alhamdulilah…
Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
Lho, maksudnya? Ga Nyambung & Ga Jelas? :-\
Sudah saatnya kita ganti sistem!
Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!
Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
(seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!
Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.
Lihat saja buktinya di
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!
Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.
Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
secara sempurna dan menyeluruh.
mulai dari diri sendiri.
mulai dari yang sederhana.
dan mulai dari sekarang.
Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
wassalamu alaikum wr. wb.
Juli 6, 2009 pada 11:22 am
Sayangnya partai partai islam tidak mampu memenuhi kuota 25% untuk bisa mengajukan calonnya. Andai saja……………
Juli 5, 2009 pada 9:22 pm
Hmm. Is it true?
Juli 6, 2009 pada 11:21 am
Gejalanya mulai terlihat………
Juli 14, 2009 pada 9:01 am
soal badan survey ya, hihi, kalo sampe masih ada yang percaya begituan, namanya musrik tuh..hhehehe
Juli 14, 2009 pada 10:18 am
Kalu musrik nanti masuk neraka ya Thom…….heheheheheeh……tapi menilik hasil quick count plus hasil sementara KPU, kayanya masih banyak yang percaya tuch……………..buktinya terlihat……